thumbnail

Syarat Agar Media Lolos Verifikasi Dewan Pers

Syarat Agar Media Lolos Verifikasi Dewan Pers
KALANGAN media sedang "gaduh" soal verifikasi Dewan Pers

Beredarnya daftar 74 media yang lolos verifikasi membuat ribuan media lainnya "resah".

Verifikasi media dilakukan sebagai salah satu upaya memerangi berita bohong (hoax) yang kini menggejala, terutama di media sosial.

Namun, ada juga pendapat yang menyebutkan verifikasi media ini sebagai "sensor gaya baru" bahkan pembreidelan gaya baru, sebagaimana sering terjadi di masa lalu.

Syarat Agar Media Lolos Verifikasi

Apa saja syarat agar media lolos verifiksi Dewan Pers dan mendapatkan barkode atau QR Code sebagai tanda terdaftar dan identits sebagai media resmi (media pers)?

Syarat Agar Media Lolos Verifikasi Dewan Pers antara lain:
  1. Berbadan Hukum (Perusahaan Pers) sehingga jelas alamat dan pengelolanya.
  2. Menajemen media dapat menggaji wartawan dengan Upah Minimal Provinsi (UMP)
  3. Menaati Kode Etik Jurnalistik
Syarat media lolos verifikasi Dewan Pers itu dikemukakan Sekretaris Jenderal PWI Pusat, Hendry Ch Bangun.

Ia membeberkan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh perusahaan pers agar lolos verifikasi Dewan Pers saat membuka Pameran Hari Pers Nasional (HPN) dan Maluku Expo 2017 di Lapangan Merdeka, Ambon, Maluku, Senin, (6/2/2017).  

Salah satu syarat agar media lolos verifikasi Dewan Pers adalah dapat menggaji wartawan dengan upah minimal Provinsi. Syarat itu merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kesejateraan wartawan. 

“Kalau perusahaan pers tidak memenuhi salah satu syarat itu, maka tidak akan lolos verifikasi,” ujar Hendry dikutip Berita Satu.

Hendry juga menjelaskan, saat ini  baru 77 media yang sudah lolos verifikasi sebagai penanda kick off verifikasi media massa di panggung HPN 2017.

"Ini baru babak pertama. Awal Maret kita bergerak lagi, Dewan Pers lanjut untuk memverifikasi. Ada ribuan media massa yang semuanya harus terverifikasi. Targetnya 2018 selesai semua,” tegas Hendry. (www.baticmedia.com).*

thumbnail

Verifikasi Media, Muncul Seruan Pembubaran Dewan Pers

Verifikasi Media, Muncul Seruan Pembubaran Dewan Pers
SEBANYAK 74 media massa di Indonesia sudah mendapat verifikasi dari Dewan Pers karena dianggap sudah menegakkan kode etik jurnalistik dengan pemberitaannya yang bisa dipercaya masyarakat.

Anggota Dewan Pers, Stanley Adi Prasetyo, menegaskan, verifikasi media diperlukan untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat pada media.

Dilansir laman BBC Indonesia, ada yang menyatakan penerapan kebijakan verifikasi media ini sudah menimbulkan kebingungan dan penutupan akses terhadap kerja media di Medan, Bandung, dan Bali.

Yang lainnya yang menyatakan khawatir bahwa mereka akan dianggap sebagai media tidak berkualitas karena tidak mendapat verifikasi.

Sejumlah pihak masih mempertanyakan proses verifikasi yang dikhawatirkan akan menjadi pengekangan terhadap kebebasan pers seperti pada masa Orde Baru, yang menerapkan mekanisme izin terbit.

Peneliti media dan pakar Asia Tenggara dari Australian National University, Ross Tapsell, menyambut baik langkah Dewan Pers sebagai caranya untuk menunjukkan peran di era media online.

Posisi organisasi Dewan Pers -yang bukan sebagai regulator- menurut Tapsell, membuat kehadiran mereka menjadi lebih penting dalam menjalankan peran memverifikasi media yang menyebarkan berita benar dan media yang tidak jelas.

Jurnalis dari situs Tabloid Jubi di Papua, Victor Mambor, khawatir pemberlakuan barcode bisa menjadi bibit pemberangusan.

Lebih jauh, muncul suara agar Dewan Pers dibubarkan saja karena bekerja tidak profesional dalam melakukan verifikasi.

Seruan pembubaran Dewan Pers --yang sudah dianggap menjadi alat penguasa untuk mengendalikan media massa-- itu muncul dalam Konferensi Kerja Nasional 2017 Persatuan Wartawan Indonesia (Konkernas PWI) di Ambon, Selasa (7/2/2017).

Peserta Konkernas mengencam Dewan Pers yang mengumumkan 74 media yang terverifikasi, pekan lalu.

"Pengumuman tentang media yang terverifikasi itu sangat merugikan perusahaan pers di daerah," kata Ketua PWI Sumatera Selatan, Oktaf Riadi, seperti dikutip Lampung Post

Menurut Oktaf, akibat tersebarnya daftar 74 media terverifikasi, banyak lembaga termasuk di kepolisian di Sumatera Selatan menolak wartawan bagi perusahaan tidak terverifikasi Dewan Pers. "PWI harus mengkaji ulang pengumuman Dewan Pers itu," tegasnya.

Hal senada juga disampaikan Ketua PWI Kepri, Ramos Ramora. Dengan tegas dia katakan, Dewan Pers harus dibubarkan karena bekerja tidak profesional dalam melakukan verifikasi.

Ketua PWI Lampung, Supriyadi Alfian juga menyesalkan pengumuman yang terlalu dini untuk disampaikan ke publik. "Ini mengundang reaksi keras di daerah. Karena di Lampung saja belum diverifikasi," katanya.

Dewan Pers memang menimbulkan "kegaduhan baru" di tengah gaduh sosial-politik tanah air saat ini akibat isu penistaan agama dan lambang negara, juga sinyalemen kemunculan komunisme. Verifikasi media juga mengindikasikan Dewan Pers sudah terindikasi pro-pemerintah yang ingin mengendalikan "semua sumber daya" di tanah air.

Dalih verifikasi media adalah memerangi berita bohong (hox) dan mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap media pers. Padahal, kredibilitas media ditentukan faktor lain. (www.baticmedia.com).*

thumbnail

Cara Melaporkan Situs & Konten yang Tidak Pantas ke Google

Cara Melaporkan Situs & Konten yang Tidak Pantas ke Google
Cara Melaporkan Situs & Konten yang Tidak Pantas ke Google

KINI zaman berita palsu (hoax) dan akun bayaran untuk propaganda (buzzer).

Jika Anda menemukan sebuah situs web atau blog yang melanggar kebijakan konten, seperti posting yang mendorong kebencian, konten kasar, kekerasan, pelecehan, pelanggaran hak cipta, dan meniru identitas orang lain, segera lapor ke Google agar blog tersbeut dibanned atau dihapus.

Konten situs yang tidak pantas dan dapat dilaporkan ke Google agar dihapus antara lain:

  1. Seseorang menyalin konten saya atau masalah hukum lainnya
  2. Konten yang mengandung perkataan yang mendorong kebencian, kekerasan, atau tidak sopan.
  3. Pelecehan atau penindasan
  4. Keselamatan anak, ketelanjangan, atau konten khusus dewasa
  5. Spam
  6. Phishing
  7. Malware
  8. Seseorang mengeposkan informasi pribadi saya tanpa persetujuan
  9. Seseorang mengeposkan konten eksplisit tentang saya tanpa persetujuan
  10. Seseorang berpura-pura atau "cloning" identitas.
  11. Seseorang berpura-pura sebagai sebuah perusahaan atau organisasi


Situs yang sudah dilaporkan agar direview. Google atau Blogger dapat mengambil langkah-langkah berikut terhadap situs yang dinilai melanggar kebijakan konten:

  1. Menghapus konten.
  2. Menempatkan laman peringatan.
  3. Memberi tahu penulis dan admin melalui email atau pesan pada dasbor Blogger mereka.
  4. Mengeposkan pesan yang menyatakan bahwa konten tersebut telah dihapus.
  5. Menyediakan tautan ke salinan pemberitahuan penghapusan.


Pelanggaran terbanyak di internet atau konten blog adalah pelanggaran terhadap kebijakan hak cipta Blogger.

"Blogger menghormati hak-hak pemegang hak cipta dan mematuhi Digital Millennium Copyright Act (DMCA) serta hukum hak cipta yang berlaku lainnya. Ketika menerima pemberitahuan yang tepat sebagaimana disyaratkan oleh DMCA, kami akan bekerja untuk segera menghapus konten yang telah diidentifikasi sebagai pelanggaran hak cipta," demikian kata Blogger.

Blog para pelanggar berulang akan dihapus, dan pada kasus tertentu, akun Blogger akan dihentikan. Pelajari lebih lanjut tentang hak cipta, DMCA atau mengajukan pemberitahuan DMCA.

Laporkan situs dan konten yang tidak pantas dengan cara membuka Bantuan Blogger.*

thumbnail

Kredibilitas Media Online: Pengertian dan Faktor Penentu

Kredibilitas Media Online
Kredibilitas Media Online: Pengertian dan Faktor Penentu.

Kredibilitas Media (Media Credibility) adalah tingkat keterpercayaan pemberitaan media. Makin kredible sebuah media, maka tingkat kepercayaan publik terhadap pemberitaan media tersebut kian tinggi.

Secara bahasa, kredibilitas (credibility) artinya kepercayaan atau keadaan dapat dipercaya, berakar kata credible yang artinya dapat dipercaya. .

"The concept of media credibility is related to the more general concept of trust. If one views media credibility as audience trust applied to the news media, then one needs to better understand the concept of trust." (Oxford Bibliographies)

Hasil studi Pew Center menunjukkan tingkat kepercayaan publik terhadap pemberitaan media menurun.

TV Media Paling Kredibel

Sebuah survei tahun 1961, untuk melihat media mana yang memiliki kredibilitas paling tinggi, menempatkan televisi sebagai media terbaik dan sumber berita yang paling kredibel. 

Hasil survei yang dimuat Doris A. Graber dalam Processing Politics: Learning from Television in TheInternet Age (Chicago: University of Chicago Press, 2001) menunjukkan, media cetak (suratkabar/koran) memiliki keuntungan lebih karena mampu menyajikan berita dengan lebih mendalam dan waktu yang dimiliki lebih panjang untuk mengecek kebenaran sebuah berita. 

Namun, menurut Graber, televisi menjadi lebih populer dari karena banyak orang menemukan bahwa televisi menjadi media yang paling mudah, paling cepat, dan paling menyenangkan dalam mendapatkan informasi.

Faktor Kredibilitas Media 

Faktor penentu kredibilitas media antara lain:
  1. Balance. Keseimbangan dalam pemberitaan, termasuk menyajikan dua pihak yang saling bertentangan (covering both side).
  2. Accuracy. Keakuratan konten berita, baik dalam arti data dan fakta yang disajikan, maupun dalam hal kesesuaian judul dengan isi berita. 
  3. Currency. Kebaruan, aktualitas, up to date, atau timeliness. 
  4. Fairness. Kejujuran dan kewajaran dalam pemberitaan. Fairness juga bermakna "rasionalitas" atau masuk akal tidaknya sebuah pemberitaan.
  5. Impartial. Tidak bias atau tidak memihak.

Kredibilitas Media Online

Era internet memunculkan banyak media online, mulai dari situs berita hingga blog (situs yang dikelola secara perorangan).

Banyak media online, terutama blog berita, yang memiliki kredibilitas rendah karena tidak memenuhi lima faktor penentu kredibilitas di atas.

Bahkan, data Dewan Pers menunjukkan, mayoritas media online di Indonesia saat ini tidak profesional alias media abal-abal. (Baca: Mayoritas Media di Indonesia Tidak Profesional alias Media Abal-Abal).

Sayangnya, pengguna internet turut andil dalam mempopulerkan media-media abal-abal tersebut, dengan cara membagikan (share) berita di media sosial. Banyak pengguna Facebook yang "asal share" tanpa mencermati kredibilitas sebuah situs atau blognya.

Sesuai dengan ketentuan Dewan Pers, media online yang profesional dan kredibel akan berbadan hukum dengan alamat dan tim redaksi yang jelas.

Dalam pemberitaan, media profesional dan kredibel akan mematuhi kode etik jurnalistik, menulis berita sesuai dengan kaidah jurnalistik, judul sesuai dengan isi, dan bertujuan memberi informasi (to inform), bukan bermisi mempengaruhi (to influence) seperti media propaganda.

Dalam kasus media online, dalam hal ini blog berita, sejumlah blog sayangnya "mendominasi" hasil pencarian karena trik mereka dalam pengoptimalan mesin pencari (SEO).

Saat dibuka atau dibaca, tulisannya sangat tidak enak dibaca dan begitu banyak pengulangan kata kunci demi memenuhi aspek 'kepadatan kata kunci' (keywords density). Anehnya, Google tidak menganggapnya sebagai 'spam' dan malah dimanjakan di peringkat atas halaman hasil pencarian (SERP).

Demi trafik, pageviews, dan peringkat, media online berlomba-lomba menerapkan tips dan trik SEO yang berakibat pada tulisan yang "tidak alami" sehingga tidak enak dibaca. Mereka menulis untuk mesin, bukn untuk manusia.

Jika Anda menemukan situs berita atau media online yang isi tulisan untuk mesin seperti itu, tidak usah dikunjungi lagi, karena hanya akan memusingkan Anda.

Demikian ulasan ringkas tentang 'Kredibilitas Media Online'. Wasalam. (http://www.baticmedia.com).*

thumbnail

Media Sosial Jadi Sumber Rujukan Utama Generasi Muda

Media Sosial Jadi Sumber Rujukan Utama Generasi Muda
Media Sosial menjadi sumber rujukan utama generasi mudah Australia dalam memperoleh berita. Sebanyak 84 persen warga Australia menggunakan jejaring media sosial.

Hampir sepertiganya memeriksa akun media sosial mereka sebanyak empat sampai lima kali dalam sehari

Menurut data dan kesimpulan sebuah penelitian terbaru di Australia, media sosial menuju posisi sebagai sumber referensi berita utama bagi kebanyakan warga Australia. 

Dilansir Radio Australia, platform baru ini sekarang mengalahkan metode iklan tradisional sebagai bentuk baru paling efektif dalam mempromosikan bisnis atau layanan.

Berdasarkan survei yang dilakukan sebuah firma layanan profesional, Deloitte, hampir separuh responden dalam survei menempatkan tinjauan dari orang di lingkaran media sosial mereka di urutan teratas dari tiga besar hal yang paling mempengaruhi keputusan membeli mereka.

"Iklan TV selalu menempati urutan kedua, di belakang promosi dari mulut ke mulut, dan tahun ini kita melihat posisi itu telah berubah dan saya kira perubahan yang telah terjadi ini cukup menarik," kata penulis survei dari Deloitte, Nicola Alcorn.

Survey konsumen media The Deloitte, dirilis Senin (15/8/2016), didasarkan pada pendapat lebih dari 2.000 warga Australia berusia 14 hingga 69 tahun.

Survei tahun ini menyoroti pengaruh luar biasa dari media sosial dan mendapati sebanyak 84 persen warga Australia menggunakan jejaring media sosial.

Hampir sepertiganya memeriksa akun media sosial mereka sebanyak empat sampai lima kali dalam sehari dan pengiklan menyasar para pengguna media sosial tersebut.

Hasil survei The Deloitte memperkuat hasil studi sebelumnya yang menunjukkan media sosial mulai menggantikan posisi media massa dan/atau situs-situs berita sebagai andalan untuk mendapatkan berita.

Menurut hasil studi Pew Research Center seperti dikutip Journalists Resource, sebanyak 63% pengguna Facebook di Amerika Serikat mengakui, mereka mendapatkan berita di jejaring sosial itu.

Sebanyak 63% pengguna Twitter juga mengatakan hal yang sama. Mereka melihat platform media sosial terpopuler setelah Facebook itu menjadi sumber berita.

Studi terhadap publik di Indonesia juga menujukkan hasil serupa. Menurut hasil riset Edelman Trust Barometer 2016 di Indonesia, media sosial dan mesin pencari (Google, Bing/Yahoo) kini menjadi sumber informasi yang paling banyak digunakan dalam mencari berita, jauh meninggalkan TV, koran, blog, dan majalah.*

thumbnail

Cara Membuat Posting Terbaru plus Gambar Per Label di Homepage Blogger

Cara membuat widget Posting Terbaru plus Gambar Thumbnail Per Label di Homepage Blogger. 

HAMPIR semua website, termasuk blog, nemapilkan posting atau tulisan terbaru di halaman depan (homepage).

Tips desain halaman depan blog dari All Blog Solution berikut ini akan menjadikan beranda blog Anda mirip tampilan majalah (magazine style), tidak simple seperti kebanyakan blog.

Tampilan blog magazine style biasanya digunakan oleh blog dengan niche berita atau banyak kategori (multi-label). Dengan begitu, tiap posting terbaru di label tertentu akan muncul di halaman depan.

Posting Terbaru plus Gambar Thumbnail Per Label di Homepage Blogger

Posting Terbaru plus Gambar Thumbnail Per Label

Cara Memasang Widget Posting Terbaru plus Gambar

Berikut ini Kode Posting Terbaru plus Gambar Thumbnail Per Label di Homepage Blogger dan cara memasangnya.

KODE CSS
Simpan di atas kode ]]></b:skin> atau </style>

img.label_thumb{float:left;margin-right:15px !important;height:65px; /* Thumbnail height */width:65px; /* Thumbnail width */border: 1px solid #ff00ff;}
#label_with_thumbs {float: left;width: 100%;min-height: 80px;margin: 0px 15px 2px 0px;padding: 1;}ul#label_with_thumbs li {padding:6px 0;min-height:60px;margin-bottom:1px;border-bottom: 1px solid #ff99ff;}
#label_with_thumbs li{list-style: none ;padding-left:1px !important;}
#label_with_thumbs a { text-transform: none;}#label_with_thumbs strong {padding-left:1px; }



KODE JAVASCRIPT: 
Simpan di atas </head> atau </body>

<script type='text/javascript'>//<![CDATA[function labelthumbs(json){document.write('<ul id="label_with_thumbs">');for(var i=0;i<numposts;i++){var entry=json.feed.entry[i];var posttitle=entry.title.$t;var posturl;if(i==json.feed.entry.length)break;for(var k=0;k<entry.link.length;k++){if(entry.link[k].rel=='replies'&&entry.link[k].type=='text/html'){var commenttext=entry.link[k].title;var commenturl=entry.link[k].href;}if(entry.link[k].rel=='alternate'){posturl=entry.link[k].href;break;}}var thumburl;try{thumburl=entry.media$thumbnail.url;}catch(error){s=entry.content.$t;a=s.indexOf("<img");b=s.indexOf("src=\"",a);c=s.indexOf("\"",b+5);d=s.substr(b+5,c-b-5);if((a!=-1)&&(b!=-1)&&(c!=-1)&&(d!="")){thumburl=d;}else thumburl='http://3.bp.blogspot.com/-zP87C2q9yog/UVopoHY30SI/AAAAAAAAE5k/AIyPvrpGLn8/s1600/picture_not_available.png';}var postdate=entry.published.$t;var cdyear=postdate.substring(0,4);var cdmonth=postdate.substring(5,7);var cdday=postdate.substring(8,10);var monthnames=new Array();monthnames[1]="Jan";monthnames[2]="Feb";monthnames[3]="Mar";monthnames[4]="Apr";monthnames[5]="May";monthnames[6]="June";monthnames[7]="July";monthnames[8]="Aug";monthnames[9]="Sept";monthnames[10]="Oct";monthnames[11]="Nov";monthnames[12]="Dec";document.write('<li class="clearfix">');if(showpostthumbnails==true)document.write('<a href="'+posturl+'" target ="_top"><img class="label_thumb" src="'+thumburl+'"/></a>');document.write('<strong><a href="'+posturl+'" target ="_top">'+posttitle+'</a></strong><br>');if("content"in entry){var postcontent=entry.content.$t;}elseif("summary"in entry){var postcontent=entry.summary.$t;}else var postcontent="";var re=/<\S[^>]*>/g;postcontent=postcontent.replace(re,"");if(showpostsummary==true){if(postcontent.length<numchars){document.write('');document.write(postcontent);document.write('');}else{document.write('');postcontent=postcontent.substring(0,numchars);var quoteEnd=postcontent.lastIndexOf(" ");postcontent=postcontent.substring(0,quoteEnd);document.write(postcontent+'...');document.write('');}}var towrite='';var flag=0;document.write('<br>');if(showpostdate==true){towrite=towrite+monthnames[parseInt(cdmonth,10)]+'-'+cdday+' - '+cdyear;flag=1;}if(showcommentnum==true){if(flag==1){towrite=towrite+' | ';}if(commenttext=='1 Comments')commenttext='1 Comment';if(commenttext=='0 Comments')commenttext='No Comments';commenttext='<a href="'+commenturl+'" target ="_top">'+commenttext+'</a>';towrite=towrite+commenttext;flag=1;;}if(displaymore==true){if(flag==1)towrite=towrite+' | ';towrite=towrite+'<a href="'+posturl+'" class="url" target ="_top">More »</a>';flag=1;;}document.write(towrite);document.write('</li>');if(displayseparator==true)if(i!=(numposts-1))document.write('');}document.write('</ul>');}//]]></script>


Save Template!

PASANG KODE HTML

1. Klik "Layout" > "Add a Gadeget" > pilih "HTML/Javascrpt"
2. Copas kode berikut ini di kolom 'Content'

 <script type='text/javascript'>var numposts = 3;var showpostthumbnails = true;var displaymore = false;var displayseparator = true;var showcommentnum = false;var showpostdate = false;var showpostsummary = true;var numchars = 100;</script> <script type="text/javascript" src="/feeds/posts/default/-/label name?published&alt=json-in-script&callback=labelthumbs"></script>


KODE DESAIN LAIN
Berikut ini kode desain Posting Terbaru plus Gambar Thumbnail Per Label di Homepage Blogger lainnya

Kode di bawah ini akan menampilkan Posting Terbaru plus Gambar Thumbnail Per Label di Homepage Blogger tanpa thumbnail image besar, tapi seragam --berupa thumbnail kecil saja.

1. KODE CSS:

#main-home{width:687px; margin-bottom:30px; overflow:hidden}
#main-left h2, #main-right h2{border-top-right-radius:4px; border-top-left-radius:4px; background:#363b40; margin:0 -15px 0 -15px; padding:15px; color:#fff; font-family:&#39;Roboto Condensed&#39;,sans-serif; font-size:16px; font-weight:400}
#main-left{border-bottom:3px solid #ddd; border-radius:4px; background:#f9f9f9; padding:0 15px 0 15px; width:44.6%; float:left}
#main-right{border-bottom:3px solid #ddd; border-radius:4px; background:#f9f9f9; padding:0 15px 0 15px; width:44.6%; float:right}
img.label_thumb{float:left; margin-right:10px !important; margin-bottom:6px; margin-top:2px; height:65px; width:65px; border:#eee solid 4px}
.label_with_thumbs{float:left; width:100%; min-height:65px; margin:0 10px 10px 0; padding:0; line-height:1.3em}
ul.label_with_thumbs li{min-height:80px; margin:2px 0; padding:7px 0; border-bottom:1px dashed #ddd}
.label_with_thumbs li{font-size:13px; list-style:none; padding-left:0 !important}
.label_with_thumbs a{font-family:&#39;Oswald&#39;,Calibri,sans-serif; font-size:13px; padding-bottom:2px; font-weight:normal; color:#444; line-height:1.4em; margin-bottom:9px}
.label_with_thumbs a:hover{color:#2C82B1}
.label_with_thumbs strong{padding-left:0}


2. KODE JAVASCRIPT


<script type='text/javascript'>
//<![CDATA[

function labelthumbs(e){document.write('<ul class="label_with_thumbs">');for(var t=0;t<numposts;t++){var n=e.feed.entry[t];var r=n.title.$t;var i;if(t==e.feed.entry.length)break;for(var o=0;o<n.link.length;o++){if(n.link[o].rel=="replies"&&n.link[o].type=="text/html"){var u=n.link[o].title;var f=n.link[o].href}if(n.link[o].rel=="alternate"){i=n.link[o].href;break}}var l;try{l=n.media$thumbnail.url}catch(h){s=n.content.$t;a=s.indexOf("<img");b=s.indexOf('src="',a);c=s.indexOf('"',b+5);d=s.substr(b+5,c-b-5);if(a!=-1&&b!=-1&&c!=-1&&d!=""){l=d}else l="http://3.bp.blogspot.com/-zP87C2q9yog/UVopoHY30SI/AAAAAAAAE5k/AIyPvrpGLn8/s1600/picture_not_available.png"}var p=n.published.$t;var v=p.substring(0,4);var m=p.substring(5,7);var g=p.substring(8,10);var y=new Array;y[1]="Jan";y[2]="Feb";y[3]="Mar";y[4]="Apr";y[5]="May";y[6]="June";y[7]="July";y[8]="Aug";y[9]="Sept";y[10]="Oct";y[11]="Nov";y[12]="Dec";document.write('<li class="clearfix">');if(showpostthumbnails==true)document.write('<a href="'+i+'" target ="_top"><img class="label_thumb" src="'+l+'"/></a>');document.write('<strong><a href="'+i+'" target ="_top">'+r+"</a></strong><br>");if("content"in n){var w=n.content.$t}else if("summary"in n){var w=n.summary.$t}else var w="";var E=/<\S[^>]*>/g;w=w.replace(E,"");if(showpostsummary==true){if(w.length<numchars){document.write("");document.write(w);document.write("")}else{document.write("");w=w.substring(0,numchars);var S=w.lastIndexOf(" ");w=w.substring(0,S);document.write(w+"...");document.write("")}}var x="";var T=0;document.write("<br>");if(showpostdate==true){x=x+y[parseInt(m,10)]+"-"+g+" - "+v;T=1}if(showcommentnum==true){if(T==1){x=x+" | "}if(u=="1 Comments")u="1 Comment";if(u=="0 Comments")u="No Comments";u='<a href="'+f+'" target ="_top">'+u+"</a>";x=x+u;T=1}if(displaymore==true){if(T==1)x=x+" | ";x=x+'<a href="'+i+'" class="url" target ="_top">More »</a>';T=1}document.write(x);document.write("</li>");if(displayseparator==true)if(t!=numposts-1)document.write("")}document.write("</ul>")}

//]]>
</script>


3. KODE HTML
Posisi widget: sebelum kode </div> penutup main wrapper

<b:if cond='data:blog.pageType != &quot;item&quot;'>
<div id='main-home'>
<b:section class='main-left' id='main-left'/>
<b:section class='main-right' id='main-right'/>
</div>
</b:if>


4. HTML WIDGET
Layout > HTML/JavaScript

<script type='text/javascript'>var numposts = 4;var showpostthumbnails = true;var displaymore = false;var displayseparator = false;var showcommentnum = false;var showpostdate = false;var showpostsummary = true;var numchars = 60;</script>
<script type="text/javascript" src="/feeds/posts/default/-/Label Anda?orderby=updated&amp;alt=json-in-script&amp;callback=labelthumbs"></script>
<br/>
<a style='float:right;font-size:13px;padding:5px 0 20px 0' href='/search/label/Label%20Anda/max-results=6'  title='Testing other' rel='nofollow'>Testing other &#187;</a>

Itu dia Cara Membuat atau Memasang Widget Posting Terbaru plus Gambar Per Label di Homepage Blogger. (http://www.baticmedia.com).*