Pengertian Jurnalistik Online: Jurnalisme Era Internet

Untuk mendapatkan informasi atau berita, orang tidak lagi harus keluar rumah untuk mengambil atau membeli koran, menyalakan radio atau televisi. Kini, sesaat setelah bangun tidur pun, orang sudah bisa mengakses berita melalui ponsel pintar (smartphone). Kini eranya jurnalistik media online.

Jurnalistik online atau jurnalisme daring (dalam jaringan) adalah era baru jurnalisme setelah kelahiran jurnalistik cetak dan penyiaran (radio/televisi).

Dengan demikian, sebagaimana ditulis Asep Syamsul M. Romli dalam bukunya, Jurnalistik Online, jurnalistik online merupakan jurnalisme generasi ketiga setelah jurnalisme cetak (print journalism) dan penyiaran (broadcast journalism).

Pengertian Jurnalistik Online


Pengertian Jurnalistik Online

Pengertian praktis jurnalistik online adalah jurnalisme yang dipraktikkan secara online di internet melalui situs web (website) yang dikenal dengan sebutan media daring (online media), media siber (cyber media), atau situs berita (news site).

Sebutan lain jurnalistik online antara lain:
  • Jurnalistik Daring (terjemahan Indonesia dari Online Journalism)
  • Jurnalistik Internet (Internet Journalism)
  • Jurnalistik Website (Web Journalism)
  • Jurnalistik Digital (Digital Journalism)
  • Jurnalistik Siber (Cyber Journalism)

Dalam jurnalisme online, informasi atau berita disajikan dalam beragam format --teks, gambar, video, audio, grafis, animasi (multimedia)-- pada medium web pages (halaman web) dan hanya bisa diakses lewat internet.

Berita yang disajikan juga bersifat interaktif karena menyediakan ruang atau kotak komentar (comment box) bagi pembaca untuk merespons setiap berita yang dibaca.

Menurut Pavlik (2001), jurnalisme online mengedepankan konsep running journalism, yaitu struktur penelitian berita berlanjut. Berita ditampilkan, dilengkapi, dan diperbaharui (update) kapan saja, dengan cepat, dalam hitungan menit bahkan detik.

Jadi jurnalisme online adalah salah satu bentuk jurnalisme yang memanfaatkan internet sebagai medianya sehingga dapat diakses secara global ke seluruh dunia.

Formula dalam pemberitaan jurnalisme online juga berbeda dengan media konvensional. Dalam jurnalisme digital ini, berita cepat tayang (real time) kapan saja tanpa memperhitungkan luas halaman karena internet tidak memiliki problem ruang dan waktu.

Berita umumnya diformat dalam bentuk singkat dan padat karena informasi terus mengalir dan berubah sewaktu-waktu. Namun kelengkapan informasii tetap terjaga karena antara berita yang satu dengan yang lain bisa dikaitkan (linkage) hanya dengan satu klik.

Untuk menjaga kepercayaan pembaca, ralat, update dan koreksi dilakukan secara periodik dan konsisten.

Jurnalistik online juga patuh pada kode etik jurnalistik. Untuk praktik jurnalisme online di Indonesia, wartawan atau media online harus juga mematuhi Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Prinsip Jurnalistik Online

Prinsip dasar jurnalisme online dikemukakan Paul Bradshaw dari Birmingham University.

Menurutnya, ada lima prinsip dasar jurnalistik online yang disingkat dengan BASIC, yaitu Brevity – Adaptabillity – Scannabillity – Interactivity – Community.

1. Brevety (Ringkas)

Tulisan harus dibuat seringkas mungkin, tidak panjang dan bertele – tele. Sebaiknya tulisan panjang, diringkas menjadi beberapa tulisan pendek agar dapat dibaca dan dipahami dengan cepat. Istilah umumnya: Keep It Short and Simple (KISS). Buatlah ringkas dan sederhana.

2. Adaptabillity (Mampu Beradaptasi)

Dalam menyajikan berita, wartawan media online harus bisa beradaptasi dengan perkembangan teknologi komunikasi.

Wartawan media online nukan hanya dituntut terampil menulis berita, namun juga dituntut untuk mampu menyajikan berita dengan keragaman cara penyajian. Bukan hanya tulisan, tapi juga disertai dengan gambar, atau bisa juga disajikan dalam format video atau suara. Jurnalis harus mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan preferensi pembaca.

3. Scannabillity (Dapat Dipindai)

Situs/ laman web jurnalisme dituntut untuk memiliki sifat dapat dipindai untuk memudahkan penbaca. Sebagian besar pengguna (user) atau pembaca tersebut melakukan pencarian secara spesifik, dengan memindai halaman web.

Pembaca akan mencari informasi utama, subheading, link, dll untuk membantu menavigasi teks, sehingga tidak perlu melihat monitor dalam waktu yang lama. Oleh sebab itu, penentuan judul berita sangat pentig dalam menarik minat pembaca, terutama dua kata pertama pada judul.

4. Interactivity (Interaktivitas)

Pembaca dibiarkan menjadi pengguna. Mereka diberi keleluasaan untuk memberikan tanggapan atau bahkan berkomunikasi dengan jurnalisnya melalui laman situs tersebut.

Dengan begitu pembaca akan merasa bahwa dirinya dilibatkan dan dihargai, sehingga mereka semakin merasa senang membaca situs tersebut.

5. Community and Conversation (Komunitas dan Percakapan)

Pembaca media online tidak hanya bersifat pasif dalam membaca berita, seperti ketika membaca berita pada koran atau televisi. Media Online memungkinkan pengguna untuk melakukan percakapan – percakapaan pendek untuk menanggapi isi berita, misalnya melalui kolom komentar.

Sebagai timbal baliknya, jurnalis juga harus menanggapi interaksi dari pembaca tersebut, sehingga tercipta komunitas dan percakapan didalamnya. Share, comment, like menjadi "budaya baru" di kalangan pembaca media online.

Karakteristik Jurnalistik Online

Karakteristik jurnalistik online sudah tergambar dalam ulasan pengertian di atas. Menurut Mike Ward dalam bukunya Online Journalism 2002 (Romli, 2012: 15), karakteristik jurnalistik online adalah sebagai berikut:

1. Immediacy: kesegaran atau kecepatan penyampaian informasi dimana berita dapat disebar dan diakses kapan saja dan dimana saja..


2. Multiple Pagination: berita bisa disajikan dalam berbagai halaman dan bisa terkait satu sama lain dalam bentuk link yang bisa dibuka tersendiri.


3. Multimedia: media bisa menyajikan berita atau informasi dalam gabungan teks, gambar, audio, video dan grafis sekaligus sekaligus.


4. Archieving: terarsipkan, yang dapat dikelompokkan berdasarkan kategori (rubrik) atau kata kunci (keyword tags) yang tersimpan dan dapat diakses kapan pun.


5. Relationship with reader: interaktif dengan pembaca dapat berlangsung saat itu juga melalui kolom komentar dan lain-lain.

Karakteristik Jurnalistik Online


Hal senada dikemukakan James C Foust dalam Online Journalism: Principles and Practices of News for The Web (Holcomb Hathaway Publishers, 2005) :

Menurut Foust, jurnalistik online memiliki karakteristik sebagai berikut:

1. Audience Control

Dalam jurnalistik online, audiens (pembaca, pengguna, atau pengunjung situs) diberi keleluasaan untuk memilih berita/ informasi yang diinginkannya sendiri.

Dengan begitu audiens dapat terlibat langsung untuk menentukan urutan bacaan dari mana lalu ke bacaan mana. Dari topik mana ke topic mana, bahkan loncat tahun. Audiens tidak hanya pasif menerima struktur/ urutan berita dari penerbit seperti pada media konvensional.

2. Immediacy

Dalam jurnalistik online, setiapkali berita di posting, maka berita itu akan langsung bisa diakses, dibaca oleh audiens dari seluruh dunia.

Waktu yang diperlukan untuk menyampaikan berita tersebut jauh lebih cepat dibandingkan media konvensional yang memerlukan proses pencetakan dan pengiriman seperti koran. Informasi/ berita tersebut juga dapat langsung diakses oleh penggunanya, tanpa perlu perantaraan pihak ketiga.

3. Multimedia Capability

Media online memungkinkan jurnalis menggunakan berbagai cara dalam penyajian berita. Berita dapat disajikan dalam bentuk teks, suara, gambar, video, atau komponen lainnya sekaligus.

4. Nonlienarity

Berita-berita yang disajikan oleh jurnalistik online bersifat independen. Setiap berita dapat berdiri sendiri, sehingga audiens tidak harus membaca seluruh rangkaian berita secara berurutan untuk dapat memahami isi berita.

5. Storage and retrieval

Media online memungkinkan karya para jurnalis online tersimpan secara “abadi” sehingga audiens dapat dengan mudah diakses kembali kapanpun audiens mau. Jika ingin, audiens juga dapat menyimpannya sendiri.

6. Unlimited Space

Dalam jurnalistik online, ruang bukan masalah. Halaman (page) tempat Informasi/ berita disajikan tak terbatas ukuran serta jumlah, sehingga artikel dapat dibuat sepanjang dan selengkap mungkin untuk memenuhi kebutuhan pengguna.

7. Interactivity

Jurnalistik online memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara audiens dengan berita/ informasi yang dibaca, termasuk juga redaksi (wartawan), seperti melalui kolom komentar atau sosial media.

Baca Juga

Tetap Dipandu Kode Etik

Berita online sering dibuat tanpa mengindahkan prinsip-prinsip dan kode etik jurnalistik. Rumor bisa langsung naik jadi berita, meski belum dicek kebenarannya.

Prinsip-prinsip jurnalistik yang melandasi media berita online mestilah sama. Yang berubah adalah teknik serta metode produksi, presentasi, dan konsumsi berita.

Benar, media berita online dituntut menyajikan berita dengan cepat, tetapi standar akurasi dan keberimbangan berita tetaplah dijaga dan tak lantas dikorbankan atas nama kecepatan.

Para pengelola situs berita diuber-uber pembaca situsnya, agar bergerak lebih cepat, dan lebih cepat lagi. Ada tiga dampak sekaligus yang diakibatkan pola kerja seperti ini, yaitu akurasi, meningkatnya transparansi dalam metode pengumpulan berita, serta melemahnya penghargaan terhadap hak berita.

Wartawan sering menggampangkan pencarian bahan dengan cara "salin dan tempel" (copy and paste) terhadap bahan yang sudah dipublikasikan sebelumnya (Qodar, 2011: 39).

Akurasi juga merupakan salah satu dari norma dasar jurnalisme. Mendapatkan berita akurat, dengan waktu peliputan yang cukup pun, tidak mudah. Apalagi bila waktunya amat terbatas.

Demi kecepatan, serta demi memenuhi rasa ingin tahu pembaca terhadap peristiwa yang berkembang, akhirnya media menjadi sekadar pengutip ucapan pihak-pihak berperkara. Jurnalisme fakta bergeser menjadi jurnalisme ucapan. Ada kalanya, yang dimuat hanya press release, sebuah berita yang memuat sisi positif saja dari si pembuat berita.

Semua penulisan apa pun itu bentuknya memiliki ciri kesamaan yaitu mudah dibaca, disajikan dengan bahasa yang hidup sehingga merangsang untuk dibaca dan tentunya juga menghibur.

Menurut mantan wartawan Wall Street Journal, Ronald Buel, jurnalisme mempunyai lima lapisan keputusan (Luwi, 2008:92) yaitu:

  1. Penugasan (data assignment) menentukan apa yang layak diliput dan mengapa?
  2. Pengumpulan (data collecting) menentukan apabila informasi yang dikumpulkan itu cukup?
  3. Evaluasi data menentukan apa yang penting untuk dimasukkan dalam berita?
  4. Penulisan menentukan kata-kata apa yang perlu digunakan?
  5. Penyuntingan (data editing) menentukan berita mana yang perlu diberikan judul yang besar dan dimuat di halaman muka, tulisan mana yang perlu dipotong cerita mana yang perlu diubah.

Seorang wartawan menulis berita, bukan mengetik. Writing is not typing. Menulis dengan menggunakan semua daya pikiran dan perasaan melalui gagasan dan data yang dikumpulkan.

Perbaikan dan penyuntingan perlu ditambah dengan menulis ulang supaya tulisan terlihat akurat dan jelas bagi pembaca. Semua usaha ini dijalankan agar berita yang disajikan menarik untuk dibaca, terutama dalam rangka persaingan media online.

situs berita media online

Sejarah Media Online di Indonesia

Menurut Jurnal Komunikasi (Oktober 2015), media online di Indonesia mulai muncul sejak tahun 1996.

Hill dan Sen mencatat, detik.com dan tempointerakif.com menjajal laman beritanya pada tahun 1996 (2005:30). Tempo mengklaim meluncurkan portalnya pada tanggal 6 Maret 1996.

Pada 2 September 1996, Harian Bisnis Indonesia menerbitkan pojrtal beritanya (Margianto dan Syaefullah, 2011:15-19). Setahun berikutnya, kompas.com mulai serius menggarap situsnya sejak 22 Agustus 1997.

Kecuali detik.com, sederetan media online tersebut merupakan versi cetak baik dari koran maupun majalah masingmasing. Detik.com menyajikan berita yang ringkas dengan menganut konsep breaking news yang diterapkan media asing seperti CNN, Reuters, Asociated Press, dan lainnya (Margianto dan Syaefullah, 2011:15-19).

Alhasil, berita yang dihasilkan sepenggal-sepenggal dan terjus dimainkan oleh para wartawan dalam tempo tertentu. Bahkan, sejumlah berita di detik.com tak memenuhi unsur kelengkapan berita.

Pada tahun 2000-an, diluncurkan okezone.com di bawah payung PT Media Nusantara Citra (MNC) Group. Selain itu, muncul juga uiuaneius.com yang diinisiasi wartawan senior Nezar Patria bersama beberapa rekannya eks jurnalis Majalah Tempo. Media ini menerapkan konsep tulisan jurnalistik yang lebih panjang dan komprehensif.

Pada tahun 2010, Tribun yang merupakan anak usaha Kelompok Kompas Gramedia (KKG) mulai menjamah ranah online dengan meluncurkan tribunnews.com. Tribun dengan jejaringnya di seluruh Indonesia, kini memiliki ratusan portal berita dengan kanal regional yang tersebar di seluruh Indonesia.

Empat tahun berikutnya, CNN mulai melebarkan sayapnya ke Indonesia dengan membentuk cnnindonesia.com. Media online ini dimiliki oleh pengusah Chairul Tanjung di bawah bendera perusahaan yang sama dengan detik.com, PT Agranet Multicitra Siberkom.

Pada tahun yang sama, media asal Filipina, rappler.com, mulai merambah juga ke Indonesia. Tulisan-tulisan berbahasa Indonesia mulai bermunculan di kanal tersendiri portal berita tersebut.

Skill Jurnalis Online

Seiring dengan perkembangan internet sebagai media komunikasi, jurnalis online dituntut untuk memiliki berbagai keahlian. Bukan hanya mahir menulis, namun juga mengolah foto/ video dan menguasai dasar-dasar HMTL.

Berikut ini keahlian yang harus dimiliki jurnalis online seperti ditulis dalam Advancing The Story:

  1. Mampu menulis dan mengedit scrip berita/ infomasi (Writing or Editing Scripts).
  2. Mampu melakukan manajemen project (Project Management).
  3. Memiliki keahlian Blogging.
  4. Mampu mendesain tampilan antarmuka laman (User Interface Design/Photo Shooting).
  5. Mampu memproduksi video (Video Production).
  6. Mampu melakukan administrasi dan organisasi staff (Staff Organization/Administration).
  7. Dapat menggabungkan cerita dalam bentuk tulisan-tulisan pendek. (Story Combining/Shortening).
  8. Dapat melaporkan dan menulis berita original (Reporting and Writing Original Stories).
  9. Dapat melakukan editing foto/ gambar (Photo/Image Editing).

Demikian Pengertian Jurnalistik Online: Jurnalisme Era Internet. Wasalam. (BaticMedia.com).*

0 comment:

Post a Comment